Serius lho..
Begini ceritanya..
Dulu waktu tahun awal pernikahan Kami, biasa deh, masih banyak manja-manjaan (posesif kalo bahasa kerennya). Nggak mau ditinggal lama-lama sama suami (cie..cie..) dan seterusnya..
Kebetulan (sebenernya ga ada yang kebetulan) dapet suami yang sayang banget sama ibunya, dalam semua cerita suami selalu disisipi kisah: kalo ibu saya sih begini, nggak boleh begitu, paling dilarang sama ibu saya kalo begini, bla bla bla.. yang lama kelamaan bikin saya mikir kok kayak anak mami dikit-dikit ngomongin ibu..
Tiap minggu juga jadi agenda rutin kunjungan ke rumah orang tuanya. Tiap minggu lho.. perasaan buat jiwa penganten baru kok ya repot amat tiap minggu harus ke rumah orang tua (ngiri.com-red). Saya masih belum sepenuhnya mengerti, yang pernah keluar dari ucapannya hanya "Ayah nggak mau orang tua merasa tidak diperhatikan hanya karena kita menikah" Lho..lho.. kok pake hanya... Huaaaa...
Lahirlah kemudian anak laki laki pertama.. anak laki-laki kedua..
Kecintaan suami untuk terus silaturahim dengan orang tuanya tiap minggu berlanjut terus.. Bahkan ketika suami diangkat pegawai tetap dan mulai dapat gaji yang cukup besar (karena memang bekerja di perusahaan asing yang cukup ternama) ibunya mendapat porsi dari penghasilan yang cukup besar juga menurut saya hehe... ngiri berlanjut ceritanya walaupun udah nggak banget banget secara nikahnya kan udah lama dan Saya juga sudah mulai merintis usaha jadi yah.. sudah pegang uang sendiri..
Tapi masih dalam hati kecil bertanya-tanya.. Why Ayah..?? saahh..
Sampailah pada suatu saat saya mendengarkan tausyiah dari seorang ustadz bahwa "Dalam Islam, seorang anak yang sudah menikah, jika dia laki-laki
adalah milik Ibunya sampai meninggalnya sang ibu, sedangkan jika dia perempuan adalah milik suaminya" Hmm.. ini dia..
Beberapa hari kepikiran sendiri, itu hadist apa apa petuah doang ya, dhoif apa shahih ya.. (berharap dhoif haha..) Masa istrinya dapet prioritas belakangan, sedih betul.. Lupa sendiri padahal saya punya 2 anak laki-laki.. Suatu hari kelak kalau mereka dewasa dan menikah alangkah bahagianya saya bila 2 anak saya masih mengunjungi saya tiap minggu.. Ngasih uang sebagai bentuk perhatian.. bawa makanan.. mengecup kening saya tiap kali datang (ini khas suami ketika bertemu ibunya) hiks.. Baru ngebayangain aja udah netes air mata satu satu..
Ingat.. semua perlakuan Kita terhadap orang tua Kita saat ini itulah nanti yang akan Kita terima dari anak Kita kelak!
Seperti sudah tidak ada tempat berkelit. Pertanyaan jiwa saya terjawab sudah.
Saya sudah ridho..
Ridho terhadap waktu yang dihabiskan suami untuk ibunya, ridho terhadap uang yang dia keluarkan untuk menyenangkan hati ibunya baik dengan atau tanpa sepengetahuan saya. Toh memang suami saya masih milik ibunya.. jadi biarkan saja dia menikmati waktunya untuk berbakti pada ibunya mumpung masih ada usia.
Jadi.. buat istri-istri yang masih "perang dingin" sama mertua.. perbanyak istighfar dan introspeksi diri ya.. Buat sudut pandang baru bahwa memang sejatinya suami kita masih milik ibunya, insya Alloh bisa lebih lapang dada. Dukung suami untuk berbakti pada orang tua, jangan malah menghasut untuk melawan (naudzubillah).
Ridho Alloh kan berasal dari ridho orang tua.
Terkenang nasihat suami yang sering diulang-ulang di telinga saya.
"Bunda, kehidupan kita yang mapan sekarang sedikitpun tidak akan terjadi tanpa doa dari orang tua, terutama doa dari ibu. Karena doa ibu pada anaknya itu seperti doa Rasulullah pada umatnya, langsung diijabah tanpa halangan sediitpun"
Senin, 18 Mei 2015
Jumat, 08 Mei 2015
Hidup adalah Bersyukur..
Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga buat blog pribadi..
Bukan.. bukan karena tidak bisa buat atau baru belajar, secara 6 tahun lalu bisnis Saya juga di mulai dari sebuah blog.. Tapi lebih kepada kesiapan mental bila tulisan tangan Saya di baca orang lain :D *nggak pede maksudnya.
Tapi, layaknya gairah yang tidak tersalurkan, hasrat nulis kerap datang menghantui *saaah.. (terutama kalau mau tidur) secara memang dulunya penulis Diary akitf.. hehe..
Kalau pada akhirnya ada yang baca, I would like to say Hi..
Nama saya Yulia, muslimah (saat ini usia 33 tahun), seorang istri dari lelaki yang baik hatinya, seorang ibu dari 3 anak yang luar biasa, seorang pimpinan perusahaan kecil menengah/UKM (saat blog ini start di buat pegawai Saya berjumlah 20 orang), dan seorang yang bahagia lahir dan batin karena tidak satupun dari status yang barusan Saya sebutkan ada di impian saya 15 tahun lalu tapi toh Alloh tetap memberikan kepada Saya.
Latar belakang kehidupan Saya biasa saja..
Ibu saya wanita bekerja (PNS), dengan watak cukup keras yang sepertinya menurun 90%nya ke Saya :D
Ayah saya wiraswasta rumahan bidang listrik.. pemborong listrik kecil2an untuk perumahan/pribadi.
Aslinya 2 bersaudara, dengan seorang adik laki2, namun lebih dekat ke kakak perempuan (yang aslinya sepupu).
Alhamdulillah Kami sekeluarga sholat dan berpuasa
Kelas ekonomi keluarga asal saya kelas menengah biasa. tentram.. damai.. adem ayem..
Teringat waktu SMP dulu pernah Saya menggugat Tuhan.. kenapa saya lahir di keluarga biasa? kenapa saya bukan anak pengusaha atau jendral yang punya uang agak lebih.. Pertanyaan yang pada akhirnya terjawab seiring waktu..
Ketika Saya bertemu seseorang pecandu.. saya bersyukur keluarga saya bebas dari hal seperti itu
Ketika Saya bertemu teman yang ketika SMU sudah mengenal kondom.. saya bersyukur keluarga saya bebas dari hal seperti itu..
Ketika Saya bertemu seorang sulung 12 bersaudara yang harus bekerja keras demi menghidupi ibu dan adik2nya karena Bapaknya mendadak mennggal karena penyakit jantung.. saya bersyukur itu tidak terjadi pada keluarga saya..
Dan ketika Saya bertemu suami saya yang bercerita keluarganya dahulu berangkat dari ekonomi sangat pas2an (bahkan kerap berhutang hanya untuk membeli beras).. disitu kadang saya merasa sedih.. hahaha.. bersyukur maksudnya..
Saya melewati sekolah negeri di daerah Jakarta Timur.
Dilanjutkan SMK Analis Kesehatan di daerah Pondok Gede Bekasi
Dan ngampus di Fak. Teknik Industri Univ Muhammadiyah Jakarta Pusat.
Nggak nyambung ya..
Sebenernya kalau sebelum ambil jurusan dulu ibu Saya baca buku2nya Ayah Eddy mungkin nggak kejadian begitu... salah jurusan..
"Tanpa pemetaan potensi anak, pendidikan adalah expenses" kata Ayah Eddy.. semoga tidak terjadi pada anak2 Saya nantinya.
Anyway..
Satu hal yang saya yakini 100%, bahwa segala keputusan yang saya ambil.. baik dalam mendidik anak ataupun keputusan bisnis semua dipengaruhi latar belakang pribadi, pendidikan, dan pengalaman masa lalu. Jadi.. tidak ada yang perlu disesali 'because those things made me..'
And these are my stories..
Bukan.. bukan karena tidak bisa buat atau baru belajar, secara 6 tahun lalu bisnis Saya juga di mulai dari sebuah blog.. Tapi lebih kepada kesiapan mental bila tulisan tangan Saya di baca orang lain :D *nggak pede maksudnya.
Tapi, layaknya gairah yang tidak tersalurkan, hasrat nulis kerap datang menghantui *saaah.. (terutama kalau mau tidur) secara memang dulunya penulis Diary akitf.. hehe..
Kalau pada akhirnya ada yang baca, I would like to say Hi..
Nama saya Yulia, muslimah (saat ini usia 33 tahun), seorang istri dari lelaki yang baik hatinya, seorang ibu dari 3 anak yang luar biasa, seorang pimpinan perusahaan kecil menengah/UKM (saat blog ini start di buat pegawai Saya berjumlah 20 orang), dan seorang yang bahagia lahir dan batin karena tidak satupun dari status yang barusan Saya sebutkan ada di impian saya 15 tahun lalu tapi toh Alloh tetap memberikan kepada Saya.
Latar belakang kehidupan Saya biasa saja..
Ibu saya wanita bekerja (PNS), dengan watak cukup keras yang sepertinya menurun 90%nya ke Saya :D
Ayah saya wiraswasta rumahan bidang listrik.. pemborong listrik kecil2an untuk perumahan/pribadi.
Aslinya 2 bersaudara, dengan seorang adik laki2, namun lebih dekat ke kakak perempuan (yang aslinya sepupu).
Alhamdulillah Kami sekeluarga sholat dan berpuasa
Kelas ekonomi keluarga asal saya kelas menengah biasa. tentram.. damai.. adem ayem..
Teringat waktu SMP dulu pernah Saya menggugat Tuhan.. kenapa saya lahir di keluarga biasa? kenapa saya bukan anak pengusaha atau jendral yang punya uang agak lebih.. Pertanyaan yang pada akhirnya terjawab seiring waktu..
Ketika Saya bertemu seseorang pecandu.. saya bersyukur keluarga saya bebas dari hal seperti itu
Ketika Saya bertemu teman yang ketika SMU sudah mengenal kondom.. saya bersyukur keluarga saya bebas dari hal seperti itu..
Ketika Saya bertemu seorang sulung 12 bersaudara yang harus bekerja keras demi menghidupi ibu dan adik2nya karena Bapaknya mendadak mennggal karena penyakit jantung.. saya bersyukur itu tidak terjadi pada keluarga saya..
Dan ketika Saya bertemu suami saya yang bercerita keluarganya dahulu berangkat dari ekonomi sangat pas2an (bahkan kerap berhutang hanya untuk membeli beras).. disitu kadang saya merasa sedih.. hahaha.. bersyukur maksudnya..
Saya melewati sekolah negeri di daerah Jakarta Timur.
Dilanjutkan SMK Analis Kesehatan di daerah Pondok Gede Bekasi
Dan ngampus di Fak. Teknik Industri Univ Muhammadiyah Jakarta Pusat.
Nggak nyambung ya..
Sebenernya kalau sebelum ambil jurusan dulu ibu Saya baca buku2nya Ayah Eddy mungkin nggak kejadian begitu... salah jurusan..
"Tanpa pemetaan potensi anak, pendidikan adalah expenses" kata Ayah Eddy.. semoga tidak terjadi pada anak2 Saya nantinya.
Anyway..
Satu hal yang saya yakini 100%, bahwa segala keputusan yang saya ambil.. baik dalam mendidik anak ataupun keputusan bisnis semua dipengaruhi latar belakang pribadi, pendidikan, dan pengalaman masa lalu. Jadi.. tidak ada yang perlu disesali 'because those things made me..'
And these are my stories..
Langganan:
Postingan (Atom)