Senin, 18 Mei 2015

Suami yang Baik adalah yang Mencintai Ibunya Lebih dari Istrinya

Serius lho..
Begini ceritanya..

Dulu waktu tahun awal pernikahan Kami, biasa deh, masih banyak manja-manjaan (posesif kalo bahasa kerennya). Nggak mau ditinggal lama-lama sama suami (cie..cie..) dan seterusnya..
Kebetulan (sebenernya ga ada yang kebetulan) dapet suami yang sayang banget sama ibunya, dalam semua cerita suami selalu disisipi kisah: kalo ibu saya sih begini, nggak boleh begitu, paling dilarang sama ibu saya kalo begini, bla bla bla.. yang lama kelamaan bikin saya mikir kok kayak anak mami dikit-dikit ngomongin ibu..

Tiap minggu juga jadi agenda rutin kunjungan ke rumah orang tuanya. Tiap minggu lho.. perasaan buat jiwa penganten baru kok ya repot amat tiap minggu harus ke rumah orang tua (ngiri.com-red). Saya masih belum sepenuhnya mengerti, yang pernah keluar dari ucapannya hanya "Ayah nggak mau orang tua merasa tidak diperhatikan hanya karena kita menikah" Lho..lho.. kok pake hanya... Huaaaa...

Lahirlah kemudian anak laki laki pertama.. anak laki-laki kedua..

Kecintaan suami untuk terus silaturahim dengan orang tuanya tiap minggu berlanjut terus.. Bahkan ketika suami diangkat pegawai tetap dan mulai dapat gaji yang cukup besar (karena memang bekerja di perusahaan asing yang cukup ternama) ibunya mendapat porsi dari penghasilan yang cukup besar juga menurut saya hehe... ngiri berlanjut ceritanya walaupun udah nggak banget banget secara nikahnya kan udah lama dan Saya juga sudah mulai merintis usaha jadi yah.. sudah pegang uang sendiri..

Tapi masih dalam hati kecil bertanya-tanya.. Why Ayah..?? saahh..

Sampailah pada suatu saat saya mendengarkan tausyiah dari seorang ustadz bahwa "Dalam Islam, seorang anak yang sudah menikah, jika dia laki-laki adalah milik Ibunya sampai meninggalnya sang ibu, sedangkan jika dia perempuan adalah milik suaminya" Hmm.. ini dia..

Beberapa hari kepikiran sendiri, itu hadist apa apa petuah doang ya, dhoif apa shahih ya.. (berharap dhoif haha..) Masa istrinya dapet prioritas belakangan, sedih betul.. Lupa sendiri padahal saya punya 2 anak laki-laki.. Suatu hari kelak kalau mereka dewasa dan menikah alangkah bahagianya saya bila 2 anak saya masih mengunjungi saya tiap minggu.. Ngasih uang sebagai bentuk perhatian.. bawa makanan.. mengecup kening saya tiap kali datang (ini khas suami ketika bertemu ibunya) hiks.. Baru ngebayangain aja udah netes air mata satu satu..

Ingat.. semua perlakuan Kita terhadap orang tua Kita saat ini itulah nanti yang akan Kita terima dari anak Kita kelak!

Seperti sudah tidak ada tempat berkelit. Pertanyaan jiwa saya terjawab sudah.

Saya sudah ridho..

Ridho terhadap waktu yang dihabiskan suami untuk ibunya, ridho terhadap uang yang dia keluarkan untuk menyenangkan hati ibunya baik dengan atau tanpa sepengetahuan saya. Toh memang suami saya masih milik ibunya.. jadi biarkan saja dia menikmati waktunya untuk berbakti pada ibunya mumpung masih ada usia.

 Jadi.. buat istri-istri yang masih "perang dingin" sama mertua.. perbanyak istighfar dan introspeksi diri ya.. Buat sudut pandang baru bahwa memang sejatinya suami kita masih milik ibunya, insya Alloh bisa lebih lapang dada. Dukung suami untuk berbakti pada orang tua, jangan malah menghasut untuk melawan (naudzubillah).

Ridho Alloh kan berasal dari ridho orang tua.
Terkenang nasihat suami yang sering diulang-ulang di telinga saya.

"Bunda, kehidupan kita yang mapan sekarang sedikitpun tidak akan terjadi tanpa doa dari orang tua, terutama doa dari ibu. Karena doa ibu pada anaknya itu seperti doa Rasulullah pada umatnya, langsung diijabah tanpa halangan sediitpun"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar